Sabtu, 30 Maret 2019

Pojok Literasi Medan: Menjadi Alika yang Paham Financial Thecnology

"zaman sekarang udah serba mudah dengan internet, mau-apa ya tinggal cek dalam jaringan internet, gampang tinggal swipe dan klik-klik. OK!"
Pernyataan yang begitu udah seering banget yakan? dan terasa juga dalam kehidupan sehari-hari. Mau beli-beli bisa cek dalam jaringan, bahkan kalau tabungan juga lagi seret bisa juga nyicil dari e-market yang menyediakan sistem kreditnya. HAHA.
Walaupun belum pernah nyoba secara langung, tapi udah menjadi saksi dari ke-wow-gampang-lah itu ya ternyata belanja begitu. Meskipun dengan saran; harus tetap waspada dan memahami resiko dengan kesepakatan pihak penjualnya.

Setali dua alurnrya, secara mengesankan, aku juga bersama para Blogger Medan berkesempatan mendapat undangan dalam agenda creative talk yang bertajuk Financial Thecnology yang Ramah bagi Milenial.

Acara ini merupakan inisiasi program kerja dari Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi untuk mengedukasi para milenial, dalam kesempatan ini khususnya anak muda Medan yang diharapkan menjadi generasi yang paham tentang Financial Thecnology.

Financial Thecnology atau yang lebih akrab disingkat Fintech merupakan defenisi dari layanan keuangan berbasis teknologi informasi.


Bertempat di Cafe Potret yang sudah tampak kece dan berbenah, acara pun dimulai sejak pukul 13.00 wib oleh Yosy Aditya, sang MC yang sungguh lincah berdialog sapa dengan para undangan. Acaranya cukup santai karena juga ada band pengiring yang menyanyikan lagu-lagu hist yang kekinian.

Sebelum itu, para undangan yang terdiri dari blogger dan para mahasiswa yang sudah tampak antusisasnya juga dimintakan partisipasin untuk membubuhkan tanda tangan di Pojok Literasi Medan; sebagai bentuk persetujuan untuk turut aktif dalam kampanye Fintech yang ramah bagi warga Medan

Melalui agenda creative talks ini, bersama moderator dari @bloggercronny, yaitu mbak Wardah Fajrani memandu acara dengan empat pembicara yang kompeten dalam bidangnya masing-masing. Yaitu:
  1. Ibu Rosarita Niken Widyastuti selaku Sekertaris Jendral Kementerian Komunikasi dan Informasi RI
  2. Sondang Martha Samosir selaku kepala Departemen Literasi dan Inklusi keuangan OJK
  3. Melvin Mumpuni CFP selaku Founder dan CEO Finansialku

Dalam kesempatan ini DJIKP terniat perannya untuk mengkampenyekan tentang Pojok Literasi Medan; dimaksudkan menjadi salah satu forum terintegrasi yang diharapkan dapat mengembangkan wawasan dan pemahaman para milenial warga medan terhadap pemanfaatan financial technology.
Dalam penyampaiannya, ibu Septriana Tangkary selaku Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim menyampaikan, "pendataan pada tahun 2014, melalui lembaga riset pasar e-marketer telah mencatat Indonesia sebagai negara keenam dengan populasi pengguna internet terbesar di dunia (83,7 juta orang). Dan Januari 2017, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 51% atau sekitar 132,7 juta orang" 
Lanjutnya, dari 137 juta pengguna Internet di Indonesia, sebanyak 106 juta diantaranya adalah generasi pengguna aktif media sosial yang merupakan Generasi Y atau Generasi Milenials (rentang usia 20-34 tahun). Dari pengguna itu merekalah generasi yang lahir sebagai digital native; pengguna aktif internet dalam kehidupan sehari-hari.


Selanjutnya, Ibu Rosarita Niken Widyastuti juga menyampaikan bahwa, "Pada tahun 2015, dalam laporan World Economic Forum, Indonesia akan menjadi salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020. 

Sehingga, menurut Ibu Niken, hal itu dapat mempertegas peluang keuangan digital serta layanan fintech untuk menjadi primadona bagi para milenials. Dalam hal ini, tentunya bisa menjadi tolak ukur kesempatan untuk para milenial agar bisa turut aktif mengembangkan kemampuan dan partisipasinya dalam perkembangan teknologi.

"Meskipun kontradiksi dari beberapa kenyataan, sesungguhnya baru sekitar 36 persen oerang dewasa di Indonesia yang memiliki rekening di bank. Sehingga pemerintah tetap berupaya giat meningkatkan literasi keuangan melalui desiminasi informasi positif kepada seluruh lapisan masyarakat. Lanjut Ibu Niken sebagai harapannya.

Dalam kesempatan yang sama Ibu Sondang Martha Samosir, menjelaskan bahwasannya dalam Fintech terdapat enam penggolongan jasa keuangan, diantaranya adalah:

  • Pembayaran (payment) yang termasuk katagori: card payment, POS payment, E-money, Transfer, Remittances, E-wallet.
  • Pendanaan (Funding)
  • Perbankan (Digital Banking)
  • Pasar Modal (Capital Market)
  • Perasuransian (Insurtech)
  • Jasa Pendukung lainnya (Support Fintech)
Turut serta juga, Ibu Sondang menyampaikan ajakannya kepada seluruh undangan dan mahasiswa yang berhadir untuk bersedia berperan sebagai Alika: Agen Literasi Keuangan.

Para Alika inilah yang diharapkan tidak lagi sekedar tergiur dengan kecemerlangan layanan keuangan bodong yang dapat menjerat para pengguna dalam kasus-kasus penipuan yang berbasis layanan keuangan digital.

"Tidak perlu cemas dengan begbagai layanan keuangan digital, kita cuma perlu melek dan paham tentang berbagai keuntungan dan serta reskio yang mungkin akan kita temukan dalam pengaplikasiannya. Serta juga tidak perlu ragu untuk mengecek berbagai aplikasi layanan terpecaya yang sudah terdaftar sah dalam OJK" ujar Ibu Sondang.

Tidak lepas dari itu saja, Ibu sondang juga menambahkan informasi tambahan berupa tips pengalokasi keuangan ala OJK, yaitu tetap sisihkan tabungan dalam setiap penghasilan yang kita dapatlan dengan cara -10 persen alokasi untuk dana darurat -20 persen alokasi untuk tabungan -30 persen untuk alokasi hutang aktif atau infestasi, dan -40 persen alokasi untuk tanggungan biaya hidup sehari-hari dalam seklai pendapatan.

Sebagai satu-satunya pembicara non departemen dan merupakan salah satu pelaku aktif yang bergerak dalam jaringan fintech turut serta menambah gairah dalam creative talks ini. Seorang Melvin Mumpuni turut serta menginspirasi perjalanan karirnya sebagai seorang blogger yang sudah bertransformasi dengan peran suksesnya sebagai Alika. Yang turut serta mempromosikan portal Finansialku.com sebagai salah satu solusi perencana keuangan digital.

Melvin sebagai seorang Founder dan CEO tak segan membagai pengalamannya yang sudah bergerak selama puluhan tahun dan konsisten bergerak untuk mengedukasi para penggiat internet dalam ranah fintech.

"Jadi, sebenarnya tidak perlu ada keraguan untuk terlibat dalam perkembangan teknologi yang telah memberikan kita akses-akses kemudahan dalam bertransaksi digital. Meskipun juga dalam ranah fintech yang dibahas bukan hanya sebatas keuangan digital, namun lebih dari itu kita juga harus paham tentang potensi serta dampak layanan serupa yang dapat membelenggu kita dengan resikonya. Kita sebagai alika tentunya perlu terlibat, aktif mencari tahu kebenaran dan paham dengan resiko yang akan dihadapi." ujar Melvin dengan semangatnya.

Foto bersama pemateri dan para undangan

Rabu, 30 Januari 2019

Seni Mencintai dari Erich Fromm

Entri ini agaknya berurusan dengan psikoanalisis dan sesungguhnya tidak ada panduan motivasional dalam urusan cinta-cintaan. Tulisan ini adalah bagian terpenting yang coba kuringkas dari buku Seni Mencitai dari Erich Fromm; sebagai pertanggungjawaban setelah harus direkomendasikan baca buku ini. Setali dua helai karena juga hendak dicelupi 'tugas editan dari tetangga sebelah'.

Percayakah kalau ice sweet tea dan teh manis dingin itu punya prioritas berbeda. Seperti adanya tentang segala hal yang akan berbeda hasilnya, jika penyajian dan olahannya disertakan ilmu yang tepat.

Bacaan tunda prihal tentang seni mencinta ini dalam beberapa penjelasannya membantu pencerahan emosionalku dalam mencari fakta logis tentang teori cinta. Ada juga beberapa efek peran yang coba dipantulkan dari keterhubungan objek-objek cinta sebagai panduan ketentraman menjalani hidup yang lebih baik ((hidup yang lebih baik)) ((*hidup yang lebih baik gaeeez*))

Jikapun nanti setelah berniat juga membaca buku ini dengan lebih rinci, pastikan ada bagian kejiwaan 'kita' yang mungkin tersinggung. Merenung-renungkan jenis-jenis cinta dalam tingkah pola berkemanusiaan 'kita'.
Jadi nantinya 'kita' bisa sampai pada titik dapat sedikit percaya isi entri ini akan bermanfaat, setidaknya sebagai multivitamin saat-saat tertentu jika (aku atau pun kalian yang baca ini) mungkin melupakan makna kehidupan bercinta-cinta yang fana ini.

Bagaimana menurutmu tentang kondisi cinta yang tidak terdefenisikan?

Seperti kadang kala ada pertanyaan diatas. Perlukah ada pernyataan bahwa logika cinta itu adalah kepentingan mendasar dalam hidup?

Bagaimana defenisi itu perlu dipelajari dan atau seterusnya agar dapat dilindungi dalam jaminan kehidupan hari tua.

HA? masih teruk sakit-sakit karena cinta, bebrapa lebam fisik dan psikis apa akan ditanggung BPJS? hiya hiya~
"Dia yang tidak tahu apa pun, tak mencintai apa pun. Dia yang tak bisa apa pun, tak mengerti apapun. Dia yang tak mengerti apa pun, tak berharga. Namun, dia yang mengerti cinta, memperhatikan, melihat ... semakin besar pengetahuan melekat dalam sesuatu, makin besarlah cinta... Siapa pun yang membayangkan bahwa semua buah matang di saat yang sama seperti stroberi berarti tak tahu apa-apa tentang anggur." _-Paracelcus.
sumber foto dari Pinterest
Sebelumnya ada cakap-cakap dari seseorang yang keliru antara pengalaman tentang cinta (mau jatuh atau bangun) dengan keadaan mencintai itu. Disini seterusnya mari kita coba dipisahkan kondisi semisal artian "falling in love" atau "standing in love".

Sebagai intinya, entri ini kuat urusannya dengan kajian keilmuan psikoanalisis buah pikir dari Erich Fromm, seorang filsuf berkebangsaan Jerman. Dalam panduan penerbit Basa-Basi yang turut serta  memberi klaim buku ini sebagai buku psikologi spektakuler sepanjang masa.

Harapanku setelah entri ini, persfektif 'kita' bisa jadi sefrekuensi tentang perlunya memisahkan pengertian dari 'kondisi cinta' yang dimaksud diawal dan serta objek-objek dari cinta itu. Tapi, sesungguhnya, ini tentang teorinya cinta saja, tentang segala yang terjadi pada perasaanmu, nanti saja ya ceritanya :)

Dalam buku ini, Fromm berperan dan membahas empat bab penjelasan teori tentang cinta.

Pertama: Cinta Adalah Seni

Langkah awalnya, Fromm mencoba memunculkan pertanyaan untuk kesamaan suhu. Tak lain untuk melanjutkan penjabaran (secara rinci) hubungan seni dan cinta. Manusia dan hidup serta kehidupannya.

Kedua: Teori Cinta

Mengenal teori tentang cinta sama artinya untuk menggali lebih dalam teori tentang manusia. Dengan landasan bahwa eksistensi manusia dan alamnya kait-terkait dalam simpul yang sejalan.
Terlebih bahwa segala yang esensial dari eksistensi manusia adalah tentang individu yang telah muncul dari 'kerajaan hewan' yang telah melampaui 'batas nalar tentang dirinya'.

Seperti Yuval N. Harari juga bertutur tentang teori sapiens (jika disederhanakan bisa menyebutkan manusia saja) yang dianungrahi kemampuan kognitif yang unik, seperti nalar. Nalar itu bisa diartikan tentang kesadaran arti diri sendiri dan atau juga kemamampuan melafalkan arti dirinya tersebut; dengan arti bahwa 'kita' memiliki kesadaran atas diri sendiri, atas sesama jenis pikiran, atas sejarah masa lalunya dan kemungkinan-kemungkinan masa depannya.
Nah, singkatnya manusia itu ya berpikir.

Cinta dan Persoalan Eksistensi Manusia

Hasrat bersatu dengan orang lain adalah usaha paling kuat yang bisa dilakukan manusia. Gairah yang paling dasar untuk menjaga umat manusia dari kehancuran adalah cinta. Itulah sebab banyak juga kita dengar kondisi "gagal meraih cinta adalah bibit yang menyebabkan kegilaan atau kehancuran-kehancuran diri dan orang lain. Karena jika tanpa cinta; kemanusiaan sungguh tak mampu bertahan tanpa makna.

Diantara beberapa makna karakter aktif dari cinta, diantaranya menyiratkan elemen-elemen dasar pada semua bentuk cinta, yaitu perhatian, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan.

Cinta yang berarti perhatian paling tampak dalam pengalaman bersatunya manusia. Sedangkan perhatian, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan, semuanya jadi saling bergantung menjadi ciri-ciri sikap orang dewasa: yaitu orang yang mengembangkan kekuatan produktifnya untuk mendapatkan apa yang diusahakannya.

Fromm menekankan bahwa cinta adalah sikap; suatu orientasi karakter yang menentukan keterkaitan seseorang dengan dunia secara keseluruhan. Keyakinan untuk cinta adalah menemukan obyek yang tepat  untuk menyalurkan hasrat itu dengan sendirinya.

Teori apapun tentang cina harus dimulai dengan teori tentang takaran yang lebih spesifik untuk membedakan bermacam bentuk, seperti

Cinta antara Orang Tua dan Anak

Awal keterakitan seorang ibu dan anaknya, menurut Fromm dimulai sejak seorang bayi dilahirkan dan menyadari keterpisahan dengan ibunya. Kesadaran itu menimbulkan rasa takut atas kenyataan tidak mampu bertahan tanpa hadirnya sang ibu -atau yang diibukan-.

Proses kebutuhan itulah merupaka tahap pertama dalam cinta. atau yang disebukkan sebgai bentuk cinta kekanak-kanankan, cinta yang pasif, yang hanya ingin mencintai jika ia dicintai. Pada kondisi itu, si bayi tidak mampu melakukan apapun untuk dapat cinta dari ibunya; karena cukup menjadi dirinya sendiri yang tidak berdaya. Sedangkan, cinta sang ibu kepada anaknya adalah bentuk cinta yang aktif; ia memberikan cinta, mencintai tanpa harus dicintai, sehingga untuk selanjutnya hal itulah yang menjadi dasar pernyataan umum bahwa cinta ibu adalah cinta yang tidak membutuhkan syarat.

Dengan alasan si ibu 'sadar' akan keberadaan anaknya yang juga merupakan bagian dari keberadaannya dan bagian dari dirinya.

Disamping itu, adapula bentuk cinta Bapak yang menjadi bentuk cinta yang memiliki syarat. Dengan studi contoh; ketika sorang anak beranjak balita atau remaja, ia akan mulai terbiasa memiliki syarat dan keterpisahan dari sang Ibu, hingga kemudian mencari 'pendekatan' cinta yang baru.

Keadaan yang bisa didapatkan si anak sewajarnya bisa dari orang terdekatnya, yaitu ayahnya. Sosok ayah adalah seseorang yang bisa mengajarkan norma kepada si anak. Porsi ayah disini sebagai petunjuk ikatan kasih sayang tentang jalan hidup bersosialisasi.

Bentuk cinta Bapak adalah cinta yang bersyarat. Cinta yang memiliki otoritas atas yang dicintainya dengan prinsip "aku mencintai kamu karena kamu memenuhi harapanku, dan oleh sebab itu kamu harus melakukan tugasmu". Sekali lagi, menurut Fromm sosok ayah biasa memberikan cinta kepada anaknya dengan cara menggurui, memandu si anak untuk melihat dunia dengan sudut pandangnya.

Keterhubungan cinta ibu dan cinta ayah merupakan jalinan kerjasama yang saling mengisi kebutuhan seorang anak. Dengan memberi keseimbangan yang stabil, kebutuhan anak tentang rasa cinta akan tumbuh dengan layak. Sehingga relasi kompak dari seorang Ibu dan Ayah seperti itulah yang akan mencipta kekuatan anak yang mandiri. Bekal kekuatan untuk mampu menjadi pribadi dewasa yang memiliki kecukupan cinta.

Obyek-Obyek Cinta

Jika seseorang mencintai hanya satu orang dan acuh tak acuh dengan sesama yang lain, bisa diartikan itu bukanlah cinta, melaikan kedekatan hubungan timbal balik atau egoisme yang meluas.

Semacam kondisi; ada seseorang menemukan orang lain yang bisa memberikan perluasan perasaan untuknya, serupa apa yang paling diinginkan dari dirinya sendiri. Nah, dari hal itu ternyata dapat diartikan wujud cinta dari seseorang yang menempatkan posisi darinya sebagai yang dicintai adalah bukan cinta; sebab kondisi mencintai itu tak lain adalah dia HANYA mencintai dirinya sendiri.

Pada fitrahnya, seseorang  harus dapat mencintai orang lain diluar dirinya. Harusnya seseorang diajarkan untuk mampu mencintai seluruh alam. Harusnya seseorang selalu mencoba mencintai kehidupan; karena itu akan menjadi defenisi obyek cinta yang ideal.

Menurut Fromm, alasan dari pernyataan cinta dengan obyek egoisme diatas adalah ketidaksiapan untuk menyatakan bahwa cintanya menjadi orientasi yang mengacu pada semua hal dalam kehidupannya.

Cinta Persaudaraan 

Wujud cinta paling fundamental yang mendasari semua jenis cinta adalah cinta persaudaraan. Yang dimaksud Fromm adalah rasa tanggung jawab, kepedulian, respek, pemahaman tentang manusia lain, dan kehendak untuk melestarikan kehidupan.

Jenis cinta semacam ini adalah cinta dengan kesetaraan. Kesetaraan dalam berbalas perasaan dan kebutuhan yang bersinggungan dalam tujuan dan harapan yang sama. Jenis ini menjadi pendekatan bahwa kebutuhan cinta dirasakan dua belah pihak menjadi keutuhan yang sama dan menyamakan keutuhan itu.Contoh hubungan yang berhasil dari wujud cinta ini  adalah hubungan persahabatan.

Cinta Erotis

Merupakan cinta yang mendambakan peleburan total, penyatuan dengan pribadi lain. Cinta erotis sesungguhnya bersifat eksklusid dan tidak universal; wujud cinta yang disebut bentuk cinta paling samar.

Cinta erotis sepenuhnya merupakan ketertarikan individual; secara unik diantara dua pribadi yang spesifik. yang paling mungkin membentuk kerumitan seperti membutuhkan rasa yang sama dan kerap kali juga pemikiran yang sama. Contoh hubungan yang berhasil dari wujud cinta ini adalah hubungan pernikahan.

Cinta Diri

Seseorang tidak bisa mencintai orang lain tanpa terlebih dahulu mencintai diri sendiri dan juga tidak akan bisa mencintai diri sendiri tanpa mencintai orang lain.
Cinta kepada diri sendiri adalah wujud kecintaan kepada umat manusia, karena diri kita sendiri juga merupakan bagian dari umat manusia. Sehingga porsi obyek mencintai diri sendiri sesungguhnya berbeda dengan mementingkan diri sendiri.

Mencintai diri sendiri artinya mencintai orang lain juga.

Cinta Kepada Maha Cinta

Menurut Fromm, obyek cinta ini merupakan cinta kepada Allah, artinya cinta yang tidak hanya dalam pikiran namun lebih daripada tindakan kepada penciptaNya. Jika 'kita' mencintai Allah itu artinya kita juga mencintai segala sesuatu yang berasal dari Allah. Mencintai segala sesuatu dengan tindakan yang benar dan baik, tanpa merugikan dan bertindak buruk terhadap alam, sesama dan makhluk-makhluk lainnya

Ketiga: Cinta dan Kehancuran dalam Masyarakat Modern

Jika cinta adalah kemampuan karakter yang dewasa dan produktif, itu artinya kemampuan mencintai hidup dalam pengaruh budaya dan karakter kebanyakan orang.

Menurut Fromm, kondisi masyarakat modren sekarang memiliki makna penyatuan dan kesetaraan yang berbeda. Penyatuan dimaknai sebagai kesetaraan robotik; kesetaraan sering kali bermakna "kesamaan" bukannya "kesatuan". Sehingga individu hanya diperkenalkan pola menyesuaikan diri pada usia tiga atau empat tahun, untuk setelah itu tidak akan pernah putus hubungan dengan kawaannya.

Individu maupun kolektif pada era ini sangat dipengaruhi oleh sistem kapitalis yang melahirkan cinta semu dan ilusi. Manusia masa kini dengan cintanya dijadikan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan berdasarkan prinsip kepuasan yang dangkal.

Keempat: Praktik Seni Mencintai

Pada bab terakhir ini, Fromm menjelaskan panduan dari cara-cara seorang seniman melakukan kegiatan seni. Untuk selanjutnya dipraktikkan dalam hubungan cinta, seperti perlu adanya kedisiplinan, konsentrasi, fokus dan proses berpikir secara objektif dan aktif daam mengolah rasa dan kondisi yang bersetujuan.

Dengan praktik sedemikian Fromm bertutur akan ada proses kemajuan yang akan membantu kita dalam mempertahankan cinta yang mendekati kata ideal. Seperti sedia kata kondisi cinta yang menjadikan 'kita' menjadi manusia yang layak untuk perasaan cinta itu.

Seni Mencintai karya Eric Fromm 

Minggu, 04 November 2018

Durkoff Cafe: Pilihan Tempat Ngopi yang Asyik

Ini kabar bahagia.

Sebagai penganut nikmatnya kopi, selalu ada bahagia dan kelegaan tiap-tiap menemukan tempat nongkrong yang tepat untuk ngopi sekaligus kemek-kemek sama konkawan terpilih.

Jadilah ceritanya sejak tanggal 26 Oktober yang lalu, dikabari dari kawan kepada kawan dan kawan-kawannya, ternyata ada tempat ngopi yang baru buka. Alamatanya di jalan Gagak Hitam/ ringroad No.28 Medan.


karena penasaran dan tergiur kabar bahagia, aku ikhtiar dong dari Denai menuju Ringroad untuk membuktikan rekomendasi si kawan it~

Ooh ya ampun, ga nyangka

Jadwal oprasional cafe ini bukanya tiap hari mulai pukul 10 pagi ya sampai sekitar jam 11 malam. Dan yes! Tempatnya asyik, luas dan punya spot-spot pilihan yang bisa disesuaikan untuk keinginan kitalah;
Biar sah nampilnya. Ini difotoin @RirinAnnidya :)

tentang pilihan tempat kelen mau yang gimana~

Pinginnya ruangan sejuk dan bebas asap rokok?

Sip banget, posisi terpewe disini ya ini sih. Sensasinya juga instagramable: ada spot foto yang kece-kece yang sayang ah kalau ga difotoin sama kawannya. Bahkan di ruangan iini juga ada ditambah fasilitas permainan uno dan ulartangga. Oia, ular tangganya di lantai loh ya~ semacam jadi dekorasi lantai yang bisa jadi ruang untuk main, mau anak-anak ataupun kakak dan abang-abang juga harusnya tetap pingin ikutan main juga loh.

Pinginnya ruangan yang bebas-bebas aja nih?

Tenang! Dibagian tengah cafe ini tersedia juga ruangan asyik begitu, letaknya juga depan pantri dan meja bar kopi. Pokoknya tetap ga kalah serunya

Pinginnya ruangan outdoor gitu?

Nah, ini juaranya ini. Bahkan posisi ini dari luar udah menggoda untuk jadi tempat nongkrong rame-rame. Pilihan lokasinya juga ciamik dengan sensasi angin-angin sejuk, apalagi kalau langitnya udah mulai senja dan gelap, duh, nuansa lampu-lampu kuning yang hangat dan teduhnya buat makin betah ngobrol sama keluarga atau kawannya deh. Beneran!


Keseluruhan suasana yang ditampilkan Durkoff cafe terbilang lengkap ya. Sejuk, asri, seru dan tentunya ada mussolanya juga. Jadi cocok sebagai tempat nongkrong dan menikmati waktu-waktu berhaga bersama keluarga dan orang-orang istimewa kita, juga cocok nih jadi rekomendasi tempat untuk kumpul-kumpul bersama komunitas.

dan yang gak kalah penting dari segala pemikat jenis tampilan tempat yang menyenangkan itu. Jelasnya seperti diawal kubilang ya wei, initu tempat ngopi pilihan deh, jenis penyajian dan variasi kekopiannya lengkap

ini coba ngintip jenis stok kopi di barnya. Wow gituu :)
Selow aja kalau udah kelaparan ah. Jelaslah disini juga ada pilihan makanannya. Ini ya, mulai dari cemilan seperti dimsum, kentang dan ubi goreng, hingga makanan berkarbohidrat itu tetap buat enak.

Pilihan menunya banyaaaaak :)

Ini jadi idolaku di Durkoff deh, namanya Guillermo: coldbrew ditambah irisan lemon. Juaranya!

ini Waffele Coffee-nya juga juara!

Kalau masalah harga? duh~ Durkoff Cake ini terbilang aman dan sesuasi untuk kantong mahasiswa hingga kantoran. Apalagi dengan fasilitas dan variasi kopi dan makanannya yang jelas terlihat menjaga kualitas ditiap sajiannya loh. Pokoknya puas itu yang jelas-jelas aja, #ngopisekelak kelen cobalah di Durkoff Cafe

Mau kepoin intstagrammnya, bisalah cek aja di @durkoff Cafe

Selasa, 30 Oktober 2018

Refleksi Masa Bodoh

Setelah usai khatam membaca Sebuah Seni Bersikap Masa Bodoh dari Mark Mason beberapa kali, ya beberapa kali ada beberapa bab yang kubaca berulang-ulang. Entah mencerminkan refleksi, entah pula tusukan maknanya terlalu tajam dan mencipta bekas yang tepat. Tepat diakunya :)

Disini bisa jadi adanya; ternyata aku kalah banyak untuk dapat dibenarkan.


Blogpost entri ini kujadikan refleksi untuk nantinya jadi pengingat sepenggal  kekalahanku. Setidaknya biar nanti-nanti aku yang sering lupa ini bisa mengingatkan diri sendiri.

Refleksi 3 point tentang Seni Bersikap Masa Bodoh, sejujurnya

#1: Masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh: masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda

Pointnya disini aku setuju. Sungguh sama sekali tidak ada yang dapat dikagumi dari sikap acuh tak acuh. Benar pulak adanya kalau orang yang semacam acuh tak acuh itu adalah bagian populasi manusia lemah, manusia malas bergerak dan ciut hatinya.

Keadaan orang yang acuh tak acuh seringnya berusaha untuk bersikap masa bodoh karena dalam kenyataannya suungguh mereka itu terlalu rewel terhadap segala sesuatu. Mereka itu yang terkadang mencoba bersembunyi dalam liang kelabu tanpa emosi, liang yang mereka gali sendiri. Entah untuk sesekali terserap oleh diri mereka sendiri atau mengasihi diri sendiri, dan entah pula untuk terus-menerus mengalihkan perhatian mereka dari hal yang menuntut waktu dan energi mereka; yang disebut kehidupan? HAh!

(??)

Nyatanya jika kita ingin saling mencoba dan (ingin saling) memahami  harus ada langkah pertama yang perlu dilakukan, yaitu masuk dalam satu feskuensi yang sama (yang sama) dan menjernihkan segala yang terasa keruh (yang terasa keruh) bersama-sama.

Keadaannya semacam ya... mudah-mudahkanlah diri untuk bisa berdiskusi.

Apapun kalau situasinya jernih pastinya enak untuk diobrolin yakan?

Hipotesa dariku adalah mencoba buat pertanyaan pada diri sendiri dan untuk kemudian mencari jawaban, tentang: apa yang kita pedulikan? hal apa yang kita pilih? bagaimana caranya memilih? Bagaimana agar bisa bersikap masa bodoh terhadap yang dipilih atau tidak dipilih atau .. yang memang tidak ada maknanya sama sekali.

itu (tetap) dapat dijernihkan.

Semisalnya udah buntu dengan diri sendiri, coba saja keluar. Pilih dan temukan orang yang tepat yang bisa dipercaya, yang bisa untuk diajak diskusi, diajak ngobrol dan dicampur becanda juga.

Ya biar: silahkan jawab dan temukan bagian titik-titikmu sendirilah ahh~

#2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama tentunya harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan.

Dibukunya Mark Mason itu ada satu analogi untuk menyatakan alasan dibalik orang-orang yang 'mengobral kepedulian mereka'; adalah ibarat seseorang yang menjual es krim di perkemahan musim panas.

Nah, jadi mereka itu -katanya- sejenis orang yang tidak punya sesuatu yang lebih-lebih layak untuk dipedulikan.

Begitulah ya, perkara menemukan sesuatu yang penting dan bermakna dalam kehidupan ini mungkin porsinya ada pada pengalman diri sendiri. Namun, ada salah satu cara paling aman dan produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga untuk menemukan hal pentig itu, antara lain yaitu dengan berpura-pura. Berpura-pura bisa untuk jadi penting dan tidak penting pada porsi yang sesuai. Ya pende-pandelah yakan?

Karena menurutku berhasil memilah kelebihan/ kekurangan untuk diri kita sendiri itu bagian terpentingnya.

Setuju ga tentang fokus kepada diri sendiri itu lebih penting? Menyelamatkan diri sendiri dengan perhatian yang akan tercurah untuk hal-hal serupa, tanpa campuran sembrono dalam makna yang lain.

-Artinya mencoba fokus dan atau menumukan fokus diri sendiri. Ya!

#3: Entah disadari atau tidak, Kita akan selalu memilih suatu hal untuk diperhatikan.

Orang-orang tidak mungkin dilahirkan dalam keadaan tanpa kepedulian.
Orang-orang tidak mungkin dilahirkan dalam keadaan tanpa makna yang harus dicariya, yang harus ditemukannya dan haruslah juga dipahaminya hal tersebut.

Melalui itu, ada fakta bahwa kita ini sebagai manusia dilahirkan untuk 'merasa' risau terhadap terlalu banyak hal.

Seberapa banyak perihal-perihal dunia ini?
Banyak banget yakan :(

bisa pusing ahhh dan ga selesai-selesai kalaupun ada yang pinginnya diselesaikan.

hmm~
tarik napas ah
lepaskan satu-satu
yang membelenggu
yang menyesakkan
segala ekspetasi itu~

hmm~
coba ikhlas
coba maafkan

jangan nyerah ya :)
coba terus deh

Ya, sebegitulah pendapatku, semacam perjuangan ya untuk mengatasi kesulitan.

Rela untuk menjadi 'beda' itu harusnya melalui ilmu ikhlas: ilmu yang ga perlu dibilang-bilang karena kalau dibilang-bilang sulit ah diukur taksirannya.

jadi, Yaudah.
kalau seandainya sudah memilih sesuatu, coba ah bertanggungjawab.
kalau seandainya sudah menjalani pilihan, coba deh jalani dan pahami

: jangan berhenti belajar ya :)

Dari sini, harus ada yang dipetik ulang, bahwasannya tentang sikap cuek dan masa bodoh ini merupakan salah satu pilihan cara.
Cara sederhana untuk mengarahkan kembali ekspetasi hidup kita.
Untuk bisa memilih apa yang penting dan apa yang kurang pentingnya bagi kehidupan kita sendiri.

Dan ada poin bahwa harus selalu ada usaha untuk mengembangkan kemampuan 'tentang ini', biar bisa mengarahkan susuatu yang mencerahkan. Tapi, bukan pencerahan yang mengawang-ngawang atau penuh mimpi kebahagiaan untuk mengahkhiri semua penderitaan ya.

Tentu harus tetap ada usaha yang selaras. Usaha. Usaha untuk tetap belajar dan jangan gampang nyerah ya :0





Kamis, 09 Agustus 2018

Pengantar Sebuah Seni untuk Bersikap Masa Bodoh

Bagian ini merupakaan ringkas pengalamanku seusai membaca buku dengan judul entri blog ini.

Kebanyakan orang membayangkan, dan (katakanlah) akan menduga-duga mental masa bodoh ini sebagai sikap yang keterlaluan.

Terlalu songgong, hingga tidak terpengaruh apa pun. Terlalu tenang, hingga mampu melewati semua badai masalah. Terlalu galak, sehingga tidak ada yang tahan berteman dengannya. Terlalu ramaaaaah, sehingga banyak orang yang salah paham. dan yang paling agak wow: terlalu lama jomlo dan pemilih, sehingga belum juga ... .. .(woii oiii)

Apa yang sebenarnya terjadi?

Aku memilih buku ini pada deretan buku "self improvement" -yang kalau ga salah sederetan dengan aneka buku motivasiisme,- yang sungguh-sungguh aku sadari, sudah lama meninggalkan jenis bacaan sejenis. Sederhananya kalau dicerna-cerna isinya tok omong kosong doang, eh iya memang pernah susah, terus lanjut deh membangga-banggakan keberhasilan melulu, mendikte tips dan trik berkehidupan yang baik dan benar, bak tuntunan pola makan 4 sehat 5 sempurna.
(ADUH iya, skeptis dan culas banget aku nulisnya?)

hahaha santai :)
uwuwuwuw~~
dan lagi pula, kupikir dewasa kini, standar dan kualitas 4 sehat dan 5 sempurna seseorang sudah mengalami peyorasi sedemikian rupa, ya gitu, yang ideal adalah disesuaikan dengan kebutuhan pengalaman orangnya masing-masing.

Semasih ada 'pedoman', ya dikaji dan dipelajari.
Semusim jika ada trend, ya dikaji dan dipelajari.
dan jadilah ini sebagai persoalan tentang berusaha untuk tetap belajar. 
Gitu.

Kuingin ngebahas isi buku yang sangat kunikmati membacanya ini dengan sungguh-sungguh loh,. Sekalinya buku ini kubaca dengan ritme yang sering sengaja kuulang dan perlama untuk direnung-renungkan.

Secara, kejutan awal buku ini tertulis semacam anjuran "jangan berusaha!"

(hoi) tidak mendadak kuteringat reka-reka ulang bahas obrolan dengan para alien yang ujungnya berkesimpulan bilang, "udah qo gosah banyak mikir, lagak idupmu penuh drama, kayak drakor. (woi) udah ada persiapan untuk bekal kematian?!"

ya kali Mbak~ perbanyak istigfar ah. idup juga perlu tetap seimbang.

Pernah dengar tentang istilah 'Lingkaran Setan'?
ibaratnya lelucon tentang kepolosan kucing yang mengejar-ngejar ekornya sendiri, yang begitu lucu menggemaskan. (YHA, lucu dan menggemaskan ya)

Nah, istilah itu juga menjadi pembahasan buah dari pengalaman hidup banyak orang. Konon, prihal istilah itu berasal dari keanehan mental dalam pengolahan sistem otak yang kita alami sendiri.

semacam mudah panik? semacam selalu gampangan marah? semacam penuh curiga? semacam tidak ada seorang pun yang bisa diandalkan? semacam sangat amat teramat kesepian karena tidak ada teman yang bisa diajak ngobrol.
(woii) hmmm. Coba tarik lebih dalam, bernafaslah dengan tenang. Tahan. Dan cobalah sayangi diri sendiri.

(aku juga begitu begitu hahahah) 

Pernah merasa sangat bersalah? merasa kalah? merasa tidak berguna? merasa menyedihkan?
(woii) TAHAN. cobalah sayangi diri sendiri. Dan bacalah buku ini sebagai penghibur sudut pandang.

Peringatanku adalah ini jenis bacaan yang ga akan berikan sensasi puk-pukin pundakmu. Gak akan ada dalih, "udah, sabar ya" dan justru, bakalan mencagili halusnya perasaanmu dan nepok jidatmu sekuat kesadaran yang muncul dari dirimu sendiri. Gitulah.

Ada beberapa hasil eksperimen yang ditawarkan Mark Manson, yang kini merupakan seorang blogger ternama asal New York. Diantaranya prihal solusi untuk menyelamatkan dunia dengan cuma bersikap masa bodoh.

Dengan tidak ambil pusing ketika merasa buruk, berarti kita mencoba memutus lingkaran setan yang ada dalam kehidupan ini. Gitu.

"saya merasa sangat buruk, tapi terus kenapa! masalah samamu?
"saya jerawatan? heh terus kenapa! peduli banget yaa?
"kamu merasa lelah. Yodah, diam. isntirahat!

sesederhana itu.
(dan itulah ciri pencapaian yang ingin kuterapkan)

dan banyak hal dari ini aku setuju: secara garis besar, proses berpikir dan pengalaman dan eksperimen mas Manson ini menurutku setipe denganku. Aku sebagai Sri Rahmadani Harahap. 

dan, sekedar saja aku mulai tidak percaya dengan gaung #qoutemulia: bahagia itu sederhana.

agaknya itu semacam wabah penyakit. Sejalan dengan petuah Alber Camus dalam nulikan buku ini; "Anda tidak akan pernah bahagia jika terus mencari apa yang terkandung di dalam kehidupan. Anda tidak akan pernah hidup jika terus mencari arti kehidupan"

ya ya ya
bahagia ya BAHAGIA aja.
Sederhana itu proses atau caranya aja, yakan?
sedih? ya udahlah SEDIH pun disederhanakan juga 

Memang adakalanya momen-momen masa bodoh ini merupakan kesempatan yang menentukan dalam proses berkehidupan. Terkadang mencoba arah berpikir selo yang reaktif gitu juga menyenangkan dan gampang melegakan.

Ibarat kata kawan awak yang agak tua tapi nyeleneh pernah bilang, "menang bertahan, kalah silahkan cari jalan. Terus aja berjuang sampai lupa bagaimana caranya bertahan."

HMMM. IYA.
tapi kok ya lucu ya? idup kayok menmaen aja maz? gitu mulu gak ada perencanaan: apa sanggup?
Ngeri juga adek mikirinya. Haha.

Jangan tinggi-tinggi ah, selama di bumi masih ada hukum gravitasi.

Ternyata konsep self improvement  yang dimaksud dalam buku ini adalah tentang memproritaskan nilai-nilai yang lebih baik, memilih hal-hal yang lebih biak untuk dipedulikan. karena ketika kita terlalu peduli pada hal-hal yang lebih baik, kita akan terjebak mendapat masalah yang baik. dan ketika kita mendapat maasalah yang lebih baik, kita akan menjalanai kehidupan yang lebih baik pula.

Suka atau tidak, kita selalu berperan aktif dalam apa yang sedang terjadi terhadap diri kita. Wajar dong, kita selalu menafsirkan makna dari setiap peristiwa dan kejadian, kita selalu memilih nilai-nilai yang kita hidupi dan ukuran yang kita gunakan untuk menilai setiap hal baru yang terjadi pada kita. Dan sering pula peristiwa yang sama bisa menjadi baik atau buruk, bergantung pada ukuran yang kita pilih. (yang kita pilih).

Intinya adalah, kita selalu (mencoba) menjatuhkan pilihan, entah kita sadari atau tidak. Itu selalu.

Kembali pada kenyataan bahwa tidak ada yang namanya tidak peduli. Tidak pernah mungkin. Kita semua pasti memedulikan sesuatu. Tidak peduli tetang apa pun tetap saja sebuah bentuk kepedulian tentang sesuatu.

Pertanyaan yang seungguhnya adalah kita memilih untuk memedulikan apa? (nah). Nilai apa yang kita pilih sebagai dasar dari ketidakan kita? ukuran apa yang kita pilih untuk kita gunakan sebagai pengukuran kehidupan kita? dan apakah itu pilihan yang baik - Apakah nilai dan ukuran baiknya?-

Begitu menggemaskan ya? untuk direnungkan. Ya untuk dibahas dan dikombur-komburkan juga.

iya?
Kalau ada yang setuju bersenang-senang, yok ngobrol~
kayaknya juga sedap kalau sambil nyeruput espresso.

apakah kopi itu pait atau asam?
hmmmm hmm hmm~~



Senin, 11 Juni 2018

#puisihaloiyik

selama kulihat kau tenang, yang lainnya bisa kuatur
selama kulihat kau bahagia, aku hilang
nanti, kalau kulihat kau sedih,
kumohon jangan tenggelam.
Aku tidak akan menolong
Medan, April 2018

(puisi ini ditulis dari serangkaian depresi yang buat aku sungguh aduh-aduhan. Untuk kemudian pernah kubacakan -sampai ingin menangis saja- saat @malampuisiMdn
Ha iya, pencapaian level: berani baca puisi dari isi kepala yang paling depresi. hahahaha) 

Selasa, 01 Mei 2018

Netizen Medan Ngobrol Bareng MPR RI

Manfaat akan bertebaran dari segala penjuru jika kita berusaha dan menuju untuk itu.

Alkisah pada suatu hari yang tidak fana bertanggal 20 April 2018, aku dapat undangan selaku perwakilan komunitas Forum Lingkar Peda Medan untuk berkesempatan hadir bersama kawan-kawan komunitas Blogger Medan, nikmatnya Silaturrahim antar komunitas ya gini: bisa punya kesempatan yang beragam, apalagi kali ini agendanya kumpul-diskusi berfaedah yang digawangi lembaga pemerintahan sekelas MPR RI.

Yang menarik dari undangan ini bertajuk: Netizen Medan Ngobrol bareng MPR 

Sebagai sorang 'pemantau' lini masa yang selalu menyempat-nyempatkan selalu dalam jaringan menjadikan aku datang bersemangat. Menurutku, gelar sebagai warga net akan jadi lebih berfaedah jika dapat nilai informatif langsung dari lembaga kenegaraan, itung-itung untuk PDKT program kekinian Tuan-Puan yang Terhormat dalam menjalankan kerja lembaga negara. Jadi kan warga net jelatah -semacam aku- ini bisa lebih pede menghadapi kejamnya arus utama informasi yang menggebu-gebu.

Bertempat di Grand SwissBell Hotel Medan,  beberapa undangan ramai berkumpul di ruang Diammond Ballroom. Takjub. Ternyata yang berhadir bukan sekedar blogger-blogger medan saja, namun juga para penggiat media sosial dan perwakilan komunitas-komunitas di Medan.

Nuansanya semakin seru! Iya banget berkumpul seruangan dengan penggiat media sosial selalu buat kukagum sendiri, apalagi kesempatan berdialog santai dengan perwakilan MPR-RI.

Sesuai susunan acara pelaksanaan, narasumber adalah Bapak Ma'aruf Cahyono (Sekertaris Jendral MPR RI) dan Ibu Siti Fauziah (kepala Biro Humas MPR RI) dan dipandu Bapak Andrianto (Kepala Bagian Pengolahan Data dan Sistem Informasi, Setjen MPR) -selaku moderator.

walaupun Bapak Ma'aruf Cahyono berhalangan hadir di Medan, acara tetap seru dan tetap berlangsung dengan baik.

Sebelum acara dimulai, tentunya diharuskan registrasi ulang untuk mendapatkan tas tangan eksklusif dan kaos keren berlogo MPR RI dan selanjutnya kami dijamu hidangan makan malam, sampai sekitar jam 19.30 acara dimulai dengan diawali menyanyikan lagu Indonesia Raya. 

dan ternyata.. sama kita pahami dong kalau MPR itu merupakan lambang permusyawaratan rakyat. Lembaga ini berkedudukan serta memiliki kewenangan tertinggi yang pula sangat fundamental dalam upaya menciptakan suasana kondusif dalam kehidupan ketatanegaraan.

Yang saya pahami pada malam itu adalah misi yang dibawa perwakilan MPR RI tentang penguatan terhadap istilah 4P; Empat Pilar -yang kalau kita masih ingat, dalam pelajaran sekolah Pkn atau IPS yang sudah membahas materi dan tugas MPR sampai segala tetek bengeknya.

Ada yang masih ingat yang dimaksud 4P ?

agra kita sama-sama ingat lagi: untuk bekal menjadi warga net yang informatif, 4 Pilar MPR RI adalah :
1. Pancasila sebagai ideologi bangsa
2. Undang-Undang Dasar 1945
3. Negra Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
4. Bhineka Tunggal Ika.

Nah..

Prihal inilah yang diingatkan lagi oleh narasumber dengan pandu ingatan bahwa kita sudah dalam zaman arus informasi yang sangat kompleks. Begitu banyak informasi yang bisa kita dapatkan setali hanya dengan sekali klik. Tentunya kita harus berhati-hati melahap laman-laman informasi, baik berita online ataupun offline yang tersaji dalam media sosial. Pak Andrianto juga sempat menyinggung tentang problema Cambridge Analytica dan issue Facebook yang mengalami kebocoran data.

dan ternyata sesuai prasangka awal yang kuprediksi bahwa isi pembahasan akan didominasi diskusi yang serius dan membosankan itu terbantahkan.
mas MC dan Narasumber.
Dokumentasi: @PertiwiSoraya
Ibu Siti Fauziah dan Pak Andrianto yang dipandu dengan mas MC yang kocak -tapi kulupa nama beliau- tampil rileks dan bersahaja menyampaikan maksud dan tujuan diskusi malam itu, serta berhasil menanggapi segala tanggapan dan resah para nitizen Medan yang menyampaikan pendapatnya ketika sesi tanya jawab yang lebih mendominasi.

Pokoknya seru!
Foto Bersama seluruh undangan.
Dokumentasi: @BloggerMedan
Ternyata MPR kini sudah menggeliat dan banyak memandu sosialisai programnya dengan wujud aksi yang lebih membumi dan membuka diri untuk kesempatan yang lebih santai begini kepada para segenap perwakilan warga net Medan. 


dapat sertifikat gini dong :)


Dan tentunya, menjadi salah satu yang memiliki kesmpatan malam itu buat kumerasa sungguh bangga dan beruntung.

Perwakilan komunitas Forum Lingkar Pena Medan bersama Ibu Siti Fauziah.
Dokumenrasi: @pertiwisoraya 
Bersama Bapak Andrianto dan 'pejuang menjadi duta wikipediawan Bahasa Indonesia' korwil Medan :D
Dokumentasi: @pertiwisoraya 

Jumat, 20 April 2018

Kenangan

Pasti ada. Ada seorang atau beberapa yang berantusisas merayakan hari-hari yang pernah 'dianggapnya' penting: berdasar tanggal, hari, bulan, tahun dengan embel-embel moment atau perayaan-perayaan yang terikat.

Rasanya seperti kontrak bathin dan jiwa pikiran yang harus atau tak sengaja saja diulang atau.. terulang begitu saja.

Aku pikir. Perihal itu sebagai bentuk dari kepedulian dan limpahan kasih sayang saja. Setidaknya begitulah pembenaran yang terdekatnya, menurutku.

Seperti aku: dengan pembenaran dari ingatan-ingatan beberapa hal... yang kusayang-sayangkan dalam isi kelapaku.

Diantara beberapa hal yang telah kulalui, lakukan dan pahami kemudian.
Diantara beberapa hal yang telah kupahami, kusyukuri dalam kesulitan dan kesenangan yang kuharap-harapkan kemudian.
Sampai jadinya bisa menjadikan senyum-senyum sebegini jadinya; kepada diri sendiri.

Ada.
Pernah ada kenangan.

Tentang bahagiaku: digendong dan dinaikkan ke pundak Ayah, semasaa anak-anakku. Sekilas bayangan caraku meminta gendongan itu, warna girangnya tawaku -yang sekarang membawakan nuansa kangen. Sungguh-sungguh.

Tentang sedihku menyaksikan Mamakku terbaring di ruang emergency rumah sakit. Kakinya membiru dan kain putih menyelimuti seluruh tubuhnya.. waktu aku tiba yang kutemui hanya jasad kehidupanku yang masih hangat, namun... (kata suara yang mengantarku) tak bernyawa lagi. Aku tidak ingat apapun, selain yang kusebut sebelumnya dan kemudian dekap Ayah dan Abang pertamaku yang datang setelah aku sangat lelah dengan air mataku sendiri -yang sekarang berusaha membawakan nuansa 'tarikan nafas yang dalam' serta rapalan doa.

Selanjutnya.. sebagiamana usahaku untuk harus melanjutkan petualangan-petualanganku dengan perdamaian yang kuyakin-yakinkan pada hatiku sendiri.

"Aku harus kuat. Harus berani."

"Harus mampu. Harus terus belajar untuk mampu."
(sumber pict: google bae)

Sampai-sampai aku hanya harus mengingat bahwa... untuk melanjutkan bahagia itu yang kuperlu hanya tentang merayakan kenanganku dengan kedamainan, rasa jujur dan percaya; bahwa aku lebih dari kepantasan untuk semua pengharapanku di masa depan.

Iya, begitulah sekiranya, caraku berdamai.

yang pertama: berdamai dengan diri sendiri.

Senin, 16 April 2018

Sebuah Usaha Merencanakan

Sebenar-benarnya Aku belum yakin ini benar untuk dilakukan. Pun sebaik-baiknya, Aku juga belum yakin ini baik apalagi penting adanya untuk dilakukan. HAH.
pict sumber: googling bae.
Kenyataan yang ada hanya tentang aku ingin mencoba, mencoba, mencoba, sampai menantang diri sendiri untuk melakukan perihal ini.

Iya, senyatanya aku ingin merencanakan sebuah usaha: untuk menulis, lagi.
  
Sebelum ini, ada satu juga yang harus tunai aku selesaikan. Tentang proyek inginku mewujudkan janji tak tertagih kepada kumpulan cecoretan tangan di sembarang kertas yang kurasa sudah pantas dikumpulkan menjadi draf yang akan berbentuk rangkaian cerita. Aku sedang berusaha untuk itu.

Menurut ketulusan gelisah jiwa-jiwaku yang sering terguncang: sadari aku memahami beberapa problem kehidupan (hallo, LYFE) dan juga cinta.

Terpujilah, duhai CINTA untuk segala jenis emosi yang tertimbun, tinggal dan masih menetap pada lurik lurik nadi yang harus lagi kutanami bunga bunga segar. Setidaknya agar menjadi bibit yang baik untuk genersi yang baru.

Besar harapanku memang tak sebesar usaha yang sedang kujalani. Besar inginku juga memang tak sebesar target yang sedang kutuju. Dalam usaha ini selalu saja sempat singgah dalam kepala, kepada apa dan siapa lainnya yang akan perhatian dengan tulisan ini. Namun, kemarin aku diingatkan kembali tentang, "kalau belum terjadi, belom dikerjakan. Udah gak usah banyak tingkah alasan. mulai aja."

dan kupikir, "hmm, baiklah"

mood boster: mbak Kirana :)
Namun, tetap saja, janji ya nanti-nanti kuharap tidak akan berpanjang daftar tanya-tanyanya pada gelisah, gelisah puisiku, gelisah prosaku dan juga gelisah pandanganku. 
Nikmati aja. semoga bisa rutin. Kan, akunya pengin healing lagi.

Untuk beberapa kondisi, rasanya aku ingin bebas saja, menulis dan hanya menulis dengan bebas tanpa  pembenaran yang harus ditemukan oleh kepalaku.
Aku ini tipe yang sangat rumit, pikirku seringkali. Untuk melakukan hal yang sebagian orang mengatakan itu sepele saja, bagiku harus tetap memiliki alasan. Untuk melakukan remeh temeh rempeyek saja, bagiku harus tetap pusing mengerutkan kening.

Kepalaku sering sekali ribut ribut pada denyut denyut yang memaksa sistem naluriah yang harusnya bekerja mendapatkan makanannya sendiri.

(tapi, kalau diajak lawak, aku sungguh recehan. Ga pakai mikir bisa jadi bloon bgt, hiks :'(

Lagi lagi harus kuingatkan, "bukankah prihal kenangan yang pernah ada, sejatinya tak akan kita buang segalanya dengan percuma, kecuali keyakinan bahwa kita akan tetap melanjutkan perasaan dengan sebijak kemampuan kita berpikir untuk masa depan.

Toh, sudah jelas banyak petuah katakan: Kita hidup untuk masa depan. Masa lalumu adalah milikmu, masa laluku pun begitu dan (bisa jadi, siapa tauuu) kita akan mencipta masa depan bersama. ya oma ya opa

Atas segala maaf dan wujud rasa hormat untukmu (ya, kalau-kalau nanti tersungging atau terjellungup): ijinkan aku menuliskan beberapa sendu yang ingin kuselesaikan, terlebih kepada inginnya aku merangkai ini menjadi jering jaring seperti rumah laba laba yang kelak akan bermuara di tengah, yang entah apa: aku juga penasaran.

Halo!

Kamu pernah mendengar tentang peristiwa halo bulan kah?
atau halo matahari?
..
Nanti pada jaringan berikutnya aku ceritakan ya.

Rabu, 11 April 2018

Kepada Kalian yang Diseleksi Getaran Jiwa

Sebelum menulis kisi-kisi curhat ini, aku sudah dibuat mewek dengan tulisan salah satu jenis manusia favorit akoh yang bertutur tentang memaafkan diri sendiri :')

Aku sudah agak lupa tentang faedah blog ini, tentang yang pernah aku muntahkan disini, tentang trauma yang pernah kusimpan disini, dan bahkan... tadinya untuk login saja aku kikuk.
Ternyata untuk mulai menulis lagi, harus ada momentum yang menyakiti, agar boom nya dapat sesuatu, mungkin menyembuhkan. *uhuk

Adakah kalian akan setuju bahwa: kita (akan) abadi? sebab yang fana adalah waktu,  seperti kata Eyang Sapardi.

Kalian kan juga pastinya percaya dan pahami saja bahwa dunia ini berotasi dengan segala kemungkinan dan harapan-harapan. Segalanya tidak ada yang mutlak, kupikir benar saja. Kecuali yang kita tahu dan pahami tentang KuasaNya yang itu.

Seandainya, hari itu adalah hari ulang tahunku yang ke 20; aku pernah meraung-raung bermohon disayang agar mamak dan ayahku tetap sehat. Dan ternyata, saat hari hari ulang tahunku yang ke 25 lalu; aku hanya mengulang-ngulang permohonan untuk selalu pandai merasai syukur saat sehat dan sakit, sehingga tidak perlu terlalu merepotkan rasa khawatir beberapa orang disekitarku.

Apa kenyataan sudah menjadi simple?
Tidak/
tapi, berusaha saja, dengan kemungkinan dan harapan.
Toh, seandainya hari ini aku masih berkeras kepala dan hati, dari mana kudapatkan makna bersyukur.
sumber pict : googling bae :)
Aku sedang tidak ingin menyesali apapun.
Aku tidak akan pernah lagi ingin meyesal.

Masa kita -begini- dan orang-orang seperti kita ini berhak merasakan dan melakukan kesalahan-kesalahan. Dan tidak perlu terlalu banyak merasakan khawatir, begitu nasihat yang seringku dapat.

Setujukah?

Jadi, acapkali naik suhuku bahwa -aku hanya ingin berani saja.
(Baiklah mari kita mencoba)
Mencoba mencari tahu: segala jenis sedih dan bahagia dan sakit dan sehat, yang belum diketahui dan alami sewajarnya. 

Seandainya harus ini kulampiaskan, perihal sedih dan bahagia yang tarik menarik, membuka dan menutupi segala kurang dan lebih energi dalam emosiku. Cerita ini akan jadi sepanjang jalan Jamin Ginting, mungkin.

Roller coaster emosiku yang singgah dan hilang: kupikir ingin kusyukuri saja. Apalagi setidaknya pernah ada cerita-cerita tentang kita. Kisah yang akan jadi kenangan, entah yang kusuka atau tidak, pastinya akan mendatangkan pelajaran dari inginku yang itu itu juga.

(terima kasih teman sejagad yang berhasil diseleksi oleh getaran jiwa)

Walaupun, aku ingin jangan pernah ada 'seandainya' bagi kita, jika itu menyakitkan adanya. Sebab dalam hal yang paling aku takuti,  (kecuali jenis takut dari jin dan kecoak terbang)  adalah tentang kehilangan. (oia, aku juga takut kelaparan, apalagi kalau ga ada duitt dan welas asih traktiran kopi) hmm :')

Aku pikir aku tidak pernah mampu untuk merasakan ini. tapi ternyata: Aku bisa tertawa sekarang. Aku masih bisa menangis. Dan, aku juga tetap bertahan serta sesekali melawan!

Entah sejak kapan,  jika harus dirunut alur kejadiannya (ini tentang evaluasi self healing yang kudapat saran dari Sesuhu Penasehat Bathinku)

Contohnya: pernah, aku mulai sering mengumpulkan daun-daun kering. Mengutipnya saja dengan random dengan tidak ada prsangka dan hanya ingin menyimpannya. Pelan-pelan aku mulai terobsesi, menyayanyi daun-daunku. Tidak ingin dia hilang atau bahakan ada yang menghilangkannya. Aku hanya mau daunku!

kemudian, berbulan lalu, aku kehilanan hanpon dan tiga lembar daun -palingkusayang-. Lantas, yang turut menjadi rute emosi itu adalah aku kehilangan kenanganku.

Terlalu banyak yang kusimpan disana, atau terlalu juga kumerasa obsesi yang itu,  Tapi ketika dia hilang, ternyata bukan itu yang kubutuhkan. Karena aku bisa beli hanpon lagi hanya dalam hitungan jam, mengggantinya sesegera dengan hanpon baru. Awalnya dia masih kosong, kemudian kini kenangan yang lain kusimpan dan rasanya sudah penuh saja.

Nah, pada waktunya aku dapat saklar yang harus aku mainkan: tentang membutuhkan makna hilang.

Entah, kemudian kita memang harus menggantinya dengan kebaruan, atau tetap harus ada hal yang direlakan, untuk dimaafkan menuju IKHLAS. 

Aku pernah diceritakan filosofi tentang pohon yang harus menggugurkan dedaunnya untuk bertahan hidup.

Nah. Itulah yang membuatku sedih, harus kuapakan kenanganku yang lalu, harus bagaimana aku dengan rasa dan perasaan bersalahku. Harus bagaimana lagi aku sampai harus begitu-begitu mulu.

Kita ini perlu kebaruan, yakan?
kita ini perlu makna yang lain, kupikir.

sumber pict : uhmm, googling meeong :)

Jadilah, aku menulis lagi disini.
Keluar dari goa, uhm... yang kata Socrates pernah jadi zona ternyaman, kemudian aku jadi penasaran siapa -yang akan mau baca blogku yang nganu ini, ya :)

Komen ngapa, aku ingin tersenyum lagi membaca tulisan ini nantinya.